Aku duduk di kursi kantorku sambil
meregang-regangkan badan. hari ini terasa sangat lelah dan panjang, kepalaku
pusing dan sepertinya badanku akan remuk dalam hitungan detik karena
mengerjakan banyak sekali pekerjaan. aku melirik ke jam di pergelangan tanganku
yang sudah menunjukkan pukul 20.21. astaga, sepertinya aku keasyikan
mengerjakan pekerjaan kantor sampai-sampai tidak sadar sekarang sudah jam
segini. pantas saja rasanya dari tadi perutku keroncongan. aku melihat ke
sekelilingku, disana juga sudah sepi. hanya ada aku, dan 2 temanku yang lain,
Malik dan Arif. terdorong oleh rasa lapar yang semakin mengkhawatirkan,
akhirnya aku memutuskan untuk pergi beli makanan ke kafetaria di lantai bawah
yang makanannya terkenal enak dan pas dengan uangku. tapi......jam segini masih
buka gak ya?
"Rif, Lik, kafetaria masih buka gak sih?
gue laper nih," tanyaku pada Arif dan Malik yang sedang sibuk berkutat
dengan layar komputer.
"Kayaknya masih," kata Arif sambil
melihat ke jam dinding.. "Lo mau kesana, Yan? kalo lo mau, gue ikut ya.
laper banget nih gue."
"Oh, oke. Lik, lo mau ikut gak?"
Malik menggeleng dan menunjuk sebuah kotak makan
didepannya. "Gue dibawain makanan tadi sama Vina. hehehe."
"Beh, enak ya kalo punya pacar....makan mah
tiap hari dibawain terooos," ledek Arif dengan tatapan jail.
"Iyelah, emang lu, jomblo gak
laku-laku."
Karena tidak terima dibilang gak laku-laku,
akhirnya Arif balas ejek. dan hanya dalam hitungan detik, mereka berdua sudah
terlibat dalam adu mulut sengit yang membahas masa kesendirian Arif dan masa
berpacaran Malik. aku, yang saat itu sudah benar-benar lapar tidak tertolong,
akhirnya menarik lengan kemeja Arif dan menyeretnya menuju ke lift.
"Kok lu narik gue sih? gue kan lagi mau
bales kata-katanya Malik, Yan!" seru Arif dengan tatapan sewot.
"Gue laper, Rif. lagian cuma gara-gara si
Malik dibawain makanan aja masa lo sampe berantem," kataku sambil memencet
angka 1 di lift. "lo ngiri ya sama dia gara-gara diperhatiin cewek?"
tanyaku spontan pada Arif. Arif terdiam, lalu ia menggulung lengan
bajunya.
"Yah, kalo dibilang gitu sih, siapa juga
yang gak ngiri, Yan. gue kan baru-baru ini diputusin pacar. makanya kalo
ngeliat si Malik mesra banget sama si Vina, pacarnya yang cakep banget itu, gue
jadi rada-rada inget kenangan gue sama mantan gue........"
Yaelah, si Arif. dia pake segala curhat dulu.
Biasanya disaat-saat si Arif atau Malik punya
masalah dengan kehidupan mereka, aku akan mendengarkan segala kendala dan
masalah yang mereka hadapi, lalu aku sebisa mungkin memberi solusi yang
kali-kali aja bisa membantu. tapi kalo soal masalah cinta dan segala
tetek-bengeknya — kayak yang lagi dihadapin si Arif sekarang — aku kayaknya gak
bisa bantu banyak.
Dibanding Arif dan Malik, akulah yang paling
sering dan paling lama menjomblo. Arif terakhir punya pacar kalau tidak salah
sebulan yang lalu. sementara Malik, sampai sekarang cintanya masih bersemi
dengan Vina. lalu disini ada aku yang bahkan tidak ingat kapan terakhir kali
punya pacar. hm, rasanya benar-benar sudah lama sekali aku tidak memberi atau
diberi perhatian khusus oleh perempuan. saking lamanya, kalah kali jaman
neolitikum.
"Rif, gue gak yakin kali ini gue bisa
ngasih solusi dalam masalah gagal move on lo. lo tau sendiri kan, gue ini juga
gak punya pacar. malah gue menjomblo lebih lama dari pada lo," kataku yang
lalu memesan ayam, nasi, dan es jeruk ke Mbak Lisna, pelayan di
kafetaria.
"Gue gak minta lo untuk ngasih solusi kok,
gue cuma mau lo dengerin cerita soal masalah kesendirian gue, Yan."
"Oh, oke. kalau cuma dengerin sih gue bisa.
tapi imbalannya ap-"
BRUK!! tanganku tidak sengaja menyenggol sebuah
tas yang kemudian isinya berhamburan di lantai. sadar bahwa tas itu aku yang
jatuhkan, akhirnya aku membungkukkan badan dan memunguti isi tas yang
berhamburan tersebut. ada dompet, lipstik, jam tangan, dan sebuah id card
dengan lambang berbentuk wajik.
"You don't have to do that," kata
seorang Perempuan yang sedang berdiri disampingku. hm, sepertinya dia pemilik
tas yang aku jatuhkan. kok ngomongnya pake bahasa inggirs? orang asing ya?
Aku lalu melihat ke arah datangnya suara dan
langsung terperangah. benar apa kataku, dia memang orang asing. lebih tepatnya,
cewek bule yang cantik sekali. saking cantiknya, aku sendiri sampai terhipnotis
dan gak bisa ngomong apa-apa.
perempuan itu tampil dengan pakaian casual yang sederhana. cukup jaket warna
navy blue, kaos putih polos, jeans, topi abu-abu, dan sneakers. astaga. hanya
dengan pakaian sesimpel itu saja aku bisa sampai terkesima begini. gimana kalo
misalnya nanti dia pake baju pengantin dan berdiri di sebelahku...pasti lebih
cantik lagi.
Sejurus kemudian, tangan wanita itu menengadah,
meminta padaku barang-barang yang aku pungut tadi. aku memberikannya, masih
dengan tatapan terhipnotis.
"You are such a nice guy," katanya
sambil tersenyum. "Terima kasih ya." Sosoknya lalu pergi menjauhiku
dan keluar dari pintu kafetaria. Ya Tuhan....perempuan tadi cantik
sekali......
"Yan, itu makanan lo udah siap. Yan? Ryan?
hoooy Ryaaaaaan!!!"
Aku menengok ke arah Arif dan langsung menepuk
pundaknya. aku memasang wajah paling dramatis dan paling ganteng yang kumiliki,
sambil berkata pada Arif satu kalimat penuh harapan.
"Rif, bisa tolong ajarin gue cara
dapetin cewek?"
****